Pagi ini, saat aku berpamitan dengan kedua adikku, mengacak-acak rambutnya, mengecup keningnya dan dia pun menempelkan punggung tanganku ke pipinya, lalu mengatakan “Nuha, kemarin udah 2 kali lho pas pulang nggak salaman, cuma  ngomong Assalamu’alaikum terus pergi.” rajuknya

“Lho iya ta?udah dua kali?” tanyaku sambil mengingat-ingat kembali
“He’em, minggu lalu sama minggu lalunya lagi” ujar kakaknya membenarkan

Astaghfirullah…ternyata hal sekecil itu yang kuanggap ‘tidak masalah’,  justru sangat diperhatikan oleh kedua adik kecilku ini (ups, masih kecil ga ya?). Seringkali karena mengejar kereta pagi, aku terburu-buru hingga kadang hanya sempat mengacak-acak rambut mereka yang kadang masih tidur di atas sajadah setelah shalat subuh, atau bahkan hanya sempat berpamitan dengan ibuku, lalu sambil lalu berteriak “Ihab, Lubab, aku pergi ya… Assalamu’alaykum…”

***

Dalam berinteraksi,  anak-anak  seringkali memilki kepekaan yang tidak disangka-sangka. Hal-hal kecil yang seringkali luput dari perhatian orang dewasa ternyata telah mereka tangkap, dan berpengaruh besar terhadap berbagai persepsi yang akan mereka bangun. Tak hanya komunikasi verbal, non-verbal pun mereka serap, bahkan bahasa non-verbal yang seringkali luput dari pengendalian kita dalam mengekspresikan, ternyata justru lebih banyak ditangkap oleh anak-anak.

Berbicara mengenai komunikasi non verbal, adalah komunikasi dimana pesan disampaikan tidak dengan  kata-kata. Komunikasi non verbal ini ditangkap oleh otak bawah sadar. Menurut hasil penelitian, anak-anak  menyerap informasi 88% melalui otak bawah sadar (verbal dan non-verbal) sedangkan sisanya, 12% melalui otak sadar (verbal). Oleh karenanya, komunikasi non verbal  memiliki peran yang cukup penting terhadap perkembangan anak.

Komunikasi non verbal, dapat berupa vibrasi (getaran pikiran) yang sering tampak pada ekspresi, intonasi, kontak mata, bahasa tubuh, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, saat seorang anak kalah dalam sebuah lomba, sang Ibu akan mengucapkan kata-kata “Tidak apa, yang penting pengalamannya”. Kata-kata itu didengarnya, akan tetapi hal itu tidak akan memberi efek, jika sebelumnya telah terekam lebih dahulu di benaknya,  ekspresi penuh harap sang ibu saat mendengarkan pengumuman pemenang lomba, lalu senyum yang perlahan hilang dari raut wajah ibunya, saat bukan nama si anak yang terdengar. Jika hal itu terjadi, maka kata-kata “Tidak apa, yang penting kamu sudah berani ikut lomba’ dan sejenisnya akan ditangkap sebagai ungkapan ‘mengasihani’ bukan ‘menyemangat’. Itulah kekuatan komunikasi non verbal anak yang mampu menangkap vibrasi pikiran.

Mungkin, hal itu juga menjawab mengapa seorang anak tak jua beranjak ketika disuruh belajar oleh ibunya yang sedang menonton tv, bahkan berkali-kali teriakan “Nak, ayo belajar besok ujian..” Biasanya hanya akan dijawab “Iyya..” (tanpa beranjak). Salah satu penyebab gagalnya komunikasi ini adalah karena tidak adanya kontak mata, sehingga komunikasi yang ada hanya berupa komunikasi verbal dan komunikasi yang demikian tidak akan berjalan secara maksimal.

Rasulullah adalah sosok yang akan membalikkan badannya menghadap lawan bicara, dan melakukan kontak mata (yang mahram tentunya) serta memusatkan perhatiannya ketika diajak bicara. Seorang rekan pernah mengatakan, budaya berbicara sambil lalu atau sambil melakukan aktivitas lainnya tak pernah diajarkan dalam islam.

Anak-anak tak meminta banyak, mereka hanya  butuh orang yang bisa berbicara dengan bahasa mereka, oleh karenanya mari menjadi pribadi pendidik yang mampu mengerti mereka. Karena perkembangan mereka tak hanya tanggung jawab keluarga, namun juga lingkungan sekitar, dan untuk para ibu dan calon ibu, ‘seharusnya’ tidak ada yang lebih mengerti bahasa mereka dibanding orang yang pertama kali mengajarkan mereka bahasa kasih sayang. Ya, mereka adalah orang tua, khususnya ibu. Waktu dengan orangtua  adalah waktu yang sangat berharga untuk anak-anak.

Wallahu’alam…

Sumber : POSPAGU SDIT Al-Uswah Bangil n beberapa artikel terkait